Yudi Permana
(Dr. H. M. Munandar Sulaeman - Dr. Ir. Lilis Nurlina, M.Si)
Abstract
The research was conducted on 25th May until 7th June 2009 and took place in Karanganyar Village, Panguragan District, Cirebon Regency. The aim for the research was to observe innovation characteristic on Poultry-Crop Integration Programme, level of adoption innovation by egg duck farmer on Poultry-Crop Integration Programme, and correlation between innovation characteristic on Poultry-Crop Integration Programme with egg duck farmer adoption-innovation in Tigan Mekar Farmer Group. The research was using census method, and Rank Sprearman analysis to analyze data. The result showed that Rank Spearman (Rs) score for the relation between innovation characteristic on Poultry-Crop Integration Programme (X variable) with level of egg duck farmer adoption innovation (Y variable) is 0,569 and if it interpreted to Guilford Regulation, it was showed that both variables have moderate relation, that means both variables have close relation and effected the successful of Poultry-Crop Integration Programme.
Key Words: Innovation characteristic, Adoption innovation, Tigan Mekar, Poultry-Crop Integration.
Abstrak
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Karanganyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, selama 2 minggu pada tanggal 25 Mei dan 7 Juni 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sifat inovasi Program Integrasi Unggas-Tanaman (PIUT), tingkat adopsi inovasi peternak itik petelur terhadap inovasi PIUT dan bagaimana hubungan antara sifat inovasi PIUT dengan tingkat adopsi peternak itik petelur pada Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Tigan Mekar.. Penelitian ini menggunakan metode sensus dan data dianalisa menggunakan analisis Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai hubungan antara sifat inovasi PIUT (variabel X) dan tingkat adopsi inovasi (variabel Y) memiliki nilai Rank Spearman (Rs) sebesar 0,569, yang jika diinterprestasikan ke dalam aturan Guilford (1956) yang dikutip Setiawan (2001) yang berarti hubungan kedua variable tersebut. Hubungan moderat ini menandakan bahwa hubungan kedua variabel cukup erat yang menjadikan variabel sifat inovasi dan proses adopsi inovasi cukup menunjang dalam proses keberhasilannya.
Kata Kunci : Sifat Inovasi, Adopsi Inovasi, Integrasi Unggas-Tanaman,Tigan Mekar.
03 Agustus 2009
05 April 2009
Daging dan Telur Ayam Sumber Protein Murah
Nugraha Setiawan
Protein merupakan salah satu zat makanan yang diperlukan oleh manusia agar bisa bertumbuh kembang dan tetap sehat. Fungsi protein antara lain untuk membuat dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Dengan demikian, ketersediaan protein dalam menu makanan tidak saja diperlukan oleh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, juga dibutuhkan oleh orang-orang dewasa. Dibandingkan dengan bahan makanan sumber karbohidrat, biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan makanan sumber protein relatif lebih mahal. Akan tetapi bahan makanan sumber protein harus tersedia dalam menu makanan seharihari, agar tubuh kita memperoleh asupan gizi yang seimbang. Kecukupan konsumsi protein akan menjadi masalah, manakala banyak keluarga dengan tingkat perekonomian yang terbatas tidak mampu menyediakan protein yang optimal dalam menu makanan sehari-hari bagi keluarganya. Kecukupan konsumsi protein, tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan. Banyak literatur menyatakan konsumsi protein sangat berkaitan dengan tingkat intelegensia. Artinya, untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu hal yang harus menjadi perhatian yaitu memenuhi kebutuhan akan protein.
Tulisan Lengkap Download di:Pustaka Unpad (pdf)
Protein merupakan salah satu zat makanan yang diperlukan oleh manusia agar bisa bertumbuh kembang dan tetap sehat. Fungsi protein antara lain untuk membuat dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Dengan demikian, ketersediaan protein dalam menu makanan tidak saja diperlukan oleh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, juga dibutuhkan oleh orang-orang dewasa. Dibandingkan dengan bahan makanan sumber karbohidrat, biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan makanan sumber protein relatif lebih mahal. Akan tetapi bahan makanan sumber protein harus tersedia dalam menu makanan seharihari, agar tubuh kita memperoleh asupan gizi yang seimbang. Kecukupan konsumsi protein akan menjadi masalah, manakala banyak keluarga dengan tingkat perekonomian yang terbatas tidak mampu menyediakan protein yang optimal dalam menu makanan sehari-hari bagi keluarganya. Kecukupan konsumsi protein, tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan. Banyak literatur menyatakan konsumsi protein sangat berkaitan dengan tingkat intelegensia. Artinya, untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu hal yang harus menjadi perhatian yaitu memenuhi kebutuhan akan protein.
Tulisan Lengkap Download di:Pustaka Unpad (pdf)
14 Maret 2009
Performa Kelembagaan, Struktur Permodalan, Dan Usaha Koperasi Peternakan Di Jawa Barat
Nugraha Setiawan
Koperasi yang memiliki usaha di sektor peternakan sangat sedikit, bahkan yang core business-nya peternakan proporsinya kurang dari setengah persen dari seluruh koperasi yang ada di Jawa Barat. Banyak dari koperasi tersebut yang didirikan pada tahun 1999, yaitu ketika dicanangkannya penyaluran KUT besar-besaran oleh pemerintah. Dengan demikian bisa disebutkan bahwa berdirinya koperasi peternakan banyak dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah.
Sebagian besar koperasi peternakan hanya memiliki anggota di bawah 200 orang, dan yang telah melakukan RAT sebelum pertengahan tahun masih kurang dari setengahnya. Pengurus koperasi umumnya berjumlah 3 orang dan pengawas 5 orang, sedangkan kualifikasi pendidikan Ketua Pengurus sebagian besar berpendidikan SLTA. Kebanyakan koperasi masih belum menggunakan tenaga manajer untuk melaksanakan usahanya, tapi pada umumnya sudah mempekerjakan karyawan. Disamping itu sedikit sekali koperasi yang telah melakukan auditing terhadap kinerjanya.
Struktur permodalan koperasi peternakan umumnya masih didominasi oleh modal sendiri yaitu berasal dari simpanan wajib dan simpanan pokok anggota, serta dana cadangan. Sementara dana luar juga berasal dari anggota yang berupa simpanan sukarela. Aset lain yang berupa kantor sendiri baru dimiliki oleh separuh koperasi peternakan yang ada di Jawa Barat.
Koperasi peternakan di Jawa Barat yang telah melakukan sistem pembukuan akuntansi proporsinya relatif kecil, tetapi pada umumnya sudah membuat neraca dan perhitungan rugi/laba. Volume usaha koperasi kebanyakan di bawah 500 juta rupiah, dengan besar SHU di bawah 50 juta. Dalam bidang usaha, umumnya koperasi masih merupakan pemain lokal dan regional, dan hanya sedikit yang melakukan kerjasama formal dengan fihak lain. Walaupun demikian sebagian besar koperasi menyebutkan selalu membuat rencana operasional serta rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Koperasi yang memiliki usaha di sektor peternakan sangat sedikit, bahkan yang core business-nya peternakan proporsinya kurang dari setengah persen dari seluruh koperasi yang ada di Jawa Barat. Banyak dari koperasi tersebut yang didirikan pada tahun 1999, yaitu ketika dicanangkannya penyaluran KUT besar-besaran oleh pemerintah. Dengan demikian bisa disebutkan bahwa berdirinya koperasi peternakan banyak dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah.
Sebagian besar koperasi peternakan hanya memiliki anggota di bawah 200 orang, dan yang telah melakukan RAT sebelum pertengahan tahun masih kurang dari setengahnya. Pengurus koperasi umumnya berjumlah 3 orang dan pengawas 5 orang, sedangkan kualifikasi pendidikan Ketua Pengurus sebagian besar berpendidikan SLTA. Kebanyakan koperasi masih belum menggunakan tenaga manajer untuk melaksanakan usahanya, tapi pada umumnya sudah mempekerjakan karyawan. Disamping itu sedikit sekali koperasi yang telah melakukan auditing terhadap kinerjanya.
Struktur permodalan koperasi peternakan umumnya masih didominasi oleh modal sendiri yaitu berasal dari simpanan wajib dan simpanan pokok anggota, serta dana cadangan. Sementara dana luar juga berasal dari anggota yang berupa simpanan sukarela. Aset lain yang berupa kantor sendiri baru dimiliki oleh separuh koperasi peternakan yang ada di Jawa Barat.
Koperasi peternakan di Jawa Barat yang telah melakukan sistem pembukuan akuntansi proporsinya relatif kecil, tetapi pada umumnya sudah membuat neraca dan perhitungan rugi/laba. Volume usaha koperasi kebanyakan di bawah 500 juta rupiah, dengan besar SHU di bawah 50 juta. Dalam bidang usaha, umumnya koperasi masih merupakan pemain lokal dan regional, dan hanya sedikit yang melakukan kerjasama formal dengan fihak lain. Walaupun demikian sebagian besar koperasi menyebutkan selalu membuat rencana operasional serta rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Label:
Kebijakan,
Koperasi,
Organisasi,
Peternakan
Kajian Dinamika Organisasi Pada Koperasi Peternakan
Nugraha Setiawan
Koperasi memiliki perangkat organisasi yang terdiri atas rapat anggota, jajaran pengurus, dan pengawas. Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan berkoperasi. Perangkat organisasi lain yaitu Pengurus Koperasi mengemban kepercayaan anggota koperasi yang diputuskan dalam rapat anggota, dan dalam mengawasi jalannya koperasi, Pengawas berkewajiban untuk menilai apakah upaya yang dijalankan sudah sesuai dengan tujuannya atau tidak. Mengutamakan manusia dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan koperasi, sering tidak semulus konsep idealnya. Koperasi yang seharusnya mengutamakan para anggota, sering terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan lain, baik itu dari dalam koperasi sendiri maupun dari luar koperasi, sementara para anggota kesejahteraannya terabaikan. Hal ini pada akhirnya bisa menyebabkan keruntuhan institusi koperasi. Untuk melihat perkembangan koperasi, antara lain dapat dilihat dari kondisi dinamika organisasinya. Organisasi yang dinamis selalu ditandai dengan adanya kegiatan interaksi, baik dalam organisasinya sendiri, maupun dengan pihak-pihak luar. Interaksi harus dilakukan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Koperasi memiliki perangkat organisasi yang terdiri atas rapat anggota, jajaran pengurus, dan pengawas. Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan berkoperasi. Perangkat organisasi lain yaitu Pengurus Koperasi mengemban kepercayaan anggota koperasi yang diputuskan dalam rapat anggota, dan dalam mengawasi jalannya koperasi, Pengawas berkewajiban untuk menilai apakah upaya yang dijalankan sudah sesuai dengan tujuannya atau tidak. Mengutamakan manusia dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan koperasi, sering tidak semulus konsep idealnya. Koperasi yang seharusnya mengutamakan para anggota, sering terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan lain, baik itu dari dalam koperasi sendiri maupun dari luar koperasi, sementara para anggota kesejahteraannya terabaikan. Hal ini pada akhirnya bisa menyebabkan keruntuhan institusi koperasi. Untuk melihat perkembangan koperasi, antara lain dapat dilihat dari kondisi dinamika organisasinya. Organisasi yang dinamis selalu ditandai dengan adanya kegiatan interaksi, baik dalam organisasinya sendiri, maupun dengan pihak-pihak luar. Interaksi harus dilakukan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
11 Maret 2009
Perkembangan Konsumsi Protein Hewani di Indonesia:Analisis Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional 2002-2005
Nugraha Setiawan
Tulisan ini bertujuan mengkaji perkembangan konsumsi protein hewani di Indonesia antara tahun 2002-2005, dengan melakukan pendalaman pada sumber protein asal ternak. Metode studi memakai pendekatan penelaahan data sekunder, dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan, telah terjadi peningkatan konsumsi protein. Namun jika dilihat dari sumbernya, konsumsi protein hewani masih kurang memadai. Sebagian besar protein hewani yang dikonsumsi berasal dari produk perikanan, walaupun ada kecenderungan konsumsi protein yang berasal dari produk peternakan semakin meningkat. Pada awalnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah protein yang berasal dari telur dan susu, tetapi kemudian berubah menjadi lebih banyak bersumber dari daging.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Tulisan ini bertujuan mengkaji perkembangan konsumsi protein hewani di Indonesia antara tahun 2002-2005, dengan melakukan pendalaman pada sumber protein asal ternak. Metode studi memakai pendekatan penelaahan data sekunder, dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan, telah terjadi peningkatan konsumsi protein. Namun jika dilihat dari sumbernya, konsumsi protein hewani masih kurang memadai. Sebagian besar protein hewani yang dikonsumsi berasal dari produk perikanan, walaupun ada kecenderungan konsumsi protein yang berasal dari produk peternakan semakin meningkat. Pada awalnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah protein yang berasal dari telur dan susu, tetapi kemudian berubah menjadi lebih banyak bersumber dari daging.
Tulisan lengkap: Download di Pustaka Unpad (pdf)
Langganan:
Postingan (Atom)